Home Terbaru Nilainya Anjlok hingga 90%, Aset Kripto Diyakini Bangkit Kembali

Nilainya Anjlok hingga 90%, Aset Kripto Diyakini Bangkit Kembali

Terbaru www.idnfeed.com live video May 15, 2022 3:17 am

Pasar aset kripto mengalami koreksi signifikan di dalam seminggu terakhir, dengan Bitcoin dan juga serta Etherum mengalami tren penurunan lebih berasal dari 20 persen. Namun yg paling parah ialah Terra Luna, yg turun sampai 90 persen. Kondisi ini menyebabkan market aset kripto  kehilangan separuh nilainya setelah mengalami all time high berasal dari November 2021.

Kendati sama-sama menghadapi koreksi, menurut Head of Growth Zipmex Indonesia, Siska Lestari, kondisi tren penurunan aset pada Mei 2022 ini berbeda dibandingkan dengan apa yg terjadi April lalu. Terlepas berasal dari sifat aset kripto yg terdesentralisasi, tetapi masih rentan terhadap sentimen pasar. Memasuki kuartal kedua 2022, perkembangan dan juga serta pergerakan market aset kripto dapat dibilang cukup stagnan dan juga serta cenderung mengalami penurunan.

“Kondisi market yg terkoreksi bersifat sementara serta bukan fenomena yg baru terjadi untuk pertama kali. saat sentimen pulih, nilai market pun hendak kembali menguat,” jelasnya di dalam keterangan yg diterima Katadata.co.id, Hari Sabtu (14/5). 

Baca Juga :  [Feed Video] - APA YANG AKAN TERJADI SETELAH JOKOWI TIDAK LAGI PRESIDEN?

Koreksi harga pada Mei 2022 terjadi karena beberapa alasan. Alasan terbesar ialah keputusan a Fed menerapkan Kebijakan Hawkish untuk mengendalikan inflasi. Beberapa langkah yg ditempuh a Fed ialah menaikkan suku bunga acuan secara bertahap serta menerapkan Quantitative Tightening (QT).

Advertisement

Kebijakan ini membuat tingkat penawaran dan juga serta permintaan di market menjadi rendah, serta harga saham menurun. Hasilnya, investor cenderung memilih untuk memindahkan investasi mereka berasal dari saham dan juga serta ekuitas ke instrumen tradisional seperti dolar AS, karena dianggap lebih stabil dan juga serta tidak spekulatif.

Berikut penurunan nilai mata uang kripto:

Selain itu, beberapa faktor yg lain yg turut mempengaruhi koreksi market aset kripto belakangan ini ialah kekhawatiran terhadap akibat pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat dan juga serta ancaman resesi ekonomi, meningkatnya jumlah kasus Corona di Cina, dan juga perang di Ukraina.

Hal senada serta diungkapkan Analis dan juga serta praktisi hukum di Frans & Setiawan Law Office, Hendra Setiawan Boen. Menurutnya, perang antara Rusia dan juga serta Ukraina yg mengakibatkan terganggunya pergerakan ekonomi di Eropa dan juga serta kenaikan faktor suku bunga pinjaman, mengakibatkan inflasi yg cukup tinggi dan juga serta hendak terus naik.

Baca Juga :  Bank DBS Prediksi Implikasi Konflik Rusia-Ukraina pada Indonesia

Hal ini membuat para investor cenderung menjual aset yg berisiko, seperti mata uang kripto. 

“Selama perang antara Rusia dan juga serta Ukraina masih berlangsung kemungkinan kripto hendak terus turun karena kinerja stablecoin Terra USD serta terus memburuk. Selain itu, market kripto serta menunjukkan arah bubble karena memang overvalue. Koreksi terhadap harga hendak terjadi cepat atau lambat,” kata Hendra dikutip berasal dari Antara, Hari Sabtu (14/5).

Meski begitu, Hendra menilai gelembung harga kripto belum hendak pecah. Sebab Apabila melihat tren kenaikan dan juga serta penurunan harga kripto selama ini, penurunan tajam kerap diikutip dengan kenaikan tinggi. “Tidak terdapat ukuran jelas untuk memprediksi nilai aktual aset tanpa fundamental ialah salah satu alasan kripto termasuk produk berisiko dan juga serta berbahaya untuk investasi,” ucapnya.

Baca Juga :  [Feed Video] - Polisi Tangkap Mahasiswa Provokator saat Demo di Patung Kuda, Jakarta #iNewsSore 21/04

Sementara CEO Indodax, Oscar Darmawan, melihat penurunan harga kripto terjadi karena aksi jual yg terjadi lebih sangat banyak daripada aksi beli dari para investor. Fenomena ini membuat penawaran yg terdapat di market lebih sangat banyak daripada permintaannya.

Aksi jual ini, menurutnya, terjadi Karena sentimen negatif yg terjadi belakangan ini karena kebijakan kenaikan suku bunga a Fed.

“Kebijakan ini bertujuan untuk meredam inflasi di Amerika yg sedang melonjak. dari karena itu, tidak heran Apabila para ‘whales’ memilih untuk menjual aset kripto-nya dan juga serta keluar terlebih dahulu,” jelas Oscar di dalam keterangan resmi, Hari Jumat (13/5).

Whales merupakan sebutan untuk investor besar pada market kripto, sehingga memiliki akibat signifikan terhadap perkembangan harga aset kripto.

Melihat market kripto yg sedang menurun cukup signifikan, Oscar menilai bahwa investor cenderung menunggu sehingga membuat pergerakan berasal dari market kripto cenderung bergerak lambat untuk bullish kembali.

Sumber Referensi & Artikel : Berbagai Sumber
Saksikan video selengkapnya :